Pemilih Rasional dan Cerdas

Dimuat pada Suara Pembaruan-6 Juli 2009

http://epaper.suarapembaruan.com/default.aspx?iid=27036&startpage=page0000007

Oleh

Harrison Papande Siregar

Pemilu Pilres tinggal beberapa hari lagi. Rakyat pemilih diharapkan rasional dan cerdas memilih mana capres yang mengusung perubahan. Karena masa depan bangsa ini sangat ditentukan oleh munculnya pemimpin perubahan.

Apa lagi, makin deras keinginan baru atau tuntutan perubahan dari masyarakat. Keinginan yang lama juga masih kuat sedangkan institusi (lembaga) tidak berganti. Suatu keadaan ketidaksembangan  yang demikian, akan dapat menimbulkan suatu kekacauan  politik.

Kita skeptis atas perkembangan transisi demokrasi menuju konsolidasi demokrasi di Tanah Air. Hanya 25 % – 30 % rakyat pemilih yang rasional dan cerdas menentukan pilihan pasangan capres/cawapres. 70% rakyat pemilih emosional atau ikut-ikutan saja  memilih pada pemilu pilpres ini.

Tentu saja, ada manfaat  perdebatan antarcalon presiden dan wakil presiden di Studio TV. Namun, perdebatan itu hanya memberikan informasi dan pendidikan politik bagi 30 % rakyat pemilih. Mereka  umumnya rasional dan cerdas dalam menentukan pilihan pada pilpres 8 Juli mendatang.

Hampir 70% rakyat pemilih di Indonesia tidak terpengaruh pada debat antarcapres dan antarcawapres di TV. Mereka emosional atau ikut-ikutan menentukan pilihan politik. Kondisi ini berkat penggalangan dan penggiringan opini publik melalui media massa, terutama iklan politik.

Di Indonesia, rakyat pemilih yang kurang pendidikan dan sedikit penghasilan emosional memilih capres. Sebaliknya, makin tinggi penghasilan dan pendidikan cenderung tidak memilih. Di negara maju, terutama di AS, makin tinggi penghasilan makin banyak orang yang  memilih, makin sedikit penghasilan atau miskin cenderung tidak memilih.

Jadi, debat antarcalon presiden dan wakil presiden di TV, belum tentu memberi informasi dan pendidikan politik bagi lapisan bawah. Hal ini disebabkan pembodohan publik melalui penggalangan  dan pembentukan opini publik (pencitraan dan popularitas)  melalui media massa, berkat dana kampanye yang cukup besar dari para pengusaha besar.

Katanya santun, tapi tidak santun, katanya beradab tapi tidak beradab, katanya bermartabat tapi tidak bermartabat, katanya tidak kampanye hitam tapi kampanye hitam, katanya tidak kampanye negatif tapi kampanye negatif, dan seterusnya. Tanpa etika/moral, politik menjadi kotor (dirty politics).  Manusia kotor adalah manusia yang tidak beretika.

Bawaslu dan Panwaslu serta KPU diharapkan menertibkan kampanye pemilu pilpres yang cenderung menghalalkan segala cara (tipe Machiavelli). Jika tidak, penyelenggaraan pemilu pilpres ini bukanlah menjaring kualitas capres/cawapres yang lebih baik dan bermutu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s